Friday, November 17, 2017

Cara Mengenali Autis pada anak

Autis dalam istilah medis dikenal sebagai Autism Spectrum Disorder (ASD).  Autis merupakan gangguan perkembangan saraf otak yang membatasi kemampuan anak untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. bagian otak yang terkena dampak dari sindrom autis adalah area yang mengatur tentang komunikasi, emosi, dan pergerakan tubuh.
Autis dapat menyerang siapa saja, dari ras dan kelompok sosial apapun. Anak laki - laki lebih banyak yang menderita autis daripada anak perempuan.
Penyebab pasti autis hingga kini masih dalam penelitian. Namun, tampaknya faktor genetik atau keturunan memegang peranan.  Pada keluarga yang memiliki anak autis, kemungkinan untuk anak berikutnya menderita autis pula adalah sebesar 19%
Ada beberapa faktor risiko yang diperkirakan dapat meningkatkan kejadian autis pada seorang anak, yaitu :

  1. Anak yang memiliki saudara pengidap autis
  2. Anak yang memiliki kelainan kromosom atau genetik lain.
  3. Wanita hamil yang mengonsumsi obat - obatan yang mengandung asam valproat dan thalidomide, beresiko melahirkan anak yang nantinya akan mengalami autisme. 
  4. anak  yang lahir dari ibu yang berusia tua. 

Beberapa gejala autis yang sering muncul adalah :
  1. gejala awal pada bayi yang lebih kecil yaitu tidak menoleh bila dipanggil namanya, tidak merespon terhadap suara ibu, tidak dapat memandang mata lawan bicara, tidak dapat menunjuk benda, tidak memiliki respon sosial.
  2. tidak bisa melakukan kontak mata dengan orang lain
  3. kurang suka disentuh atau melakukan kontak fisik
  4. Terjadi kelambatan bicara. belum dapat berbicara pada usia 16 bulan. belum dapat menyusun / berbicara dua kata hingga usia dua tahun. 
  5. Suka melakukankegiatan berulang - ulang ( Repetisi), seperti menggerak - gerakkan badannya, mengatur benda berulang - ulang dalam bentuk yang dia mau.
  6. memiliki kebiasaan tersendiri yang harus selalu diikuti sesuai dengan urutannya.
  7. Sering mengulang kata - kata atau frasa.
  8. Tidak dapat mengatakan keinginan atau kebutuhannya sendiri. 
  9. Sangat sensitif walaupun dengan perubahan lingkungan atau suasana yang sangat kecil, seperti suara bel, atau bau - bauan. cahaya, dan lainnya. 
  10. Kurang tertarik pada permainan pada umur 18 bulan.
  11. Kurang dapat memahami perasaan orang lain. Tidak dapat memahami arti dari perasaan sedih, gembira, kecewa, dan lainnya. sehingga tidak dapat mengungkapkan perasaan yang mereka rasakan.
  12. Biasanya memiliki gangguan pencernaan.
  13. Sulit tidur.
  14. Kurangnya koordinasi pada kemampuan kasar, seperti berlari atau memanjat.
  15. Beberapa anak yang menderita autis memiliki kecerdasan yang rendah hingga normal, namun tidak jarang juga sangat cerdas dan berbakat pada satu bidang, misalnya musik. anak yang kondisinya sangat parah perlu diberikan bimbingan agar setidaknya dapat mengurus dirinya sendiri.
Baca Juga : Berat badan berkurang pada bayi
Terdapat beberapa gangguan perkembangan anak yang kondisinya sangat mirip dengan autis dan sering diasosiasikan sebagai spektrum autisme atau bentuk autisme lain. Gangguan tersebut, yaitu :
  • Autis.  adalah kelainan perkembangan yang ditandai dengan hambatan dalam perkembangan kemampuan motorik, interaksi sosial, dan komunikasi. anak juga akan mengalami respons yang abnormal terhadap stimulasi sensoris, juga ada keterlambatan perkembangan. gejala tampak sebelum anak menginjak usia tiga tahun.
  • Sindrom asperger. Gejalanya mirip dengan autis. Penderita sindrom asperger juga memiliki interaksi sosial yang terbatas, pengulangan perilaku dan aktivitas. Namun mereka tidak menunjukkan keterlambatan bicara dan memiliki IQ rata - rata atau malah di atas rata - rata, sehingga kebanyakan sindrom asperger dapat hidup mandiri.
  • Sindrom Rett. Bentuk autisme yang bersifat degeneratif. ditandai dengan perkembangan yang normal pada awal pertumbuhannnya, kemudian secara bertahap kemampuan yang dimilikinya hilang atau mengalami kemunduran. Misalnya hilangnya kemampuan menggunakan tangan. Biasanya gejala muncul saat usia 6 bulan hingga 18 bulan. sebagian besar menyerang anak perempuan. 
  • Childhood Disintegrative Disorder ( CDD). bentuk yang hampir mirip dengan sindrom rett, yaitu mengalami kemunduran perkembangan. anak memiliki perkembangan yang normal hingga usia dua tahun, namun kemudian kemampuan perkembangannya mengalami kemunduran atau terganggu sebelum usianya mencapai sepuluh tahun. 
  • Pervasive Developmental Disorder - Not Otherwise Specified (PDD_NOS). bentuk autisme yang tidak termasuk pada tipe autis, sindrom asperger, maupun sindrom Rett, namun memiliki gejala yang hampir mirip dengan autisme lain. 

Baca Juga : hepatitis-pada-bayi-gejala-pencegahan

➧Pencegahan

Penyebab terjadinya autis masih belum dapat diketahui dengan pasti. yang dapat kita lakukan adalah memeriksakan kesehatan dan janin selama kehamilan. Hindarilah mengonsumsi obat - obatan tapa resep dokter.
Untuk mencegah anak autis menjadi beban keluarga dan masyaraka, orang tua perlu memeriksakan buah hatinya ke dokter apabila dicurigai menderita autis, Makin cepat gangguan ini terdeteksi, makin dini pula penanganan yang dapat anda lakukan untuk membantu buah hati meningkatkan kemampuan dan kemandiriannnya.

➧Pengobatan / Penanganan

Penanganan anak autis memerlukan kerja sama dari beberapa pihak, karena harus ditangani dari berbagai aspek, seperti aspek psikologis, kemampuan bahasa dan komunikasi, kemampuan motorik, dan sebagainya.
Tidak ada obat khususyang dapat menghilangkan gejala autis. Untuk terapi obat, pemberian obat - obatan tergantung pada gejala yang dialaminya, misalnya obat antidepresan atau antikejang.
Perlu diperhatikan, bahwa kondisi perorangan anak penderita autis itu berbeda - beda, sehingga penanganan setiap anak juga tidak sama.
Keluarga penderita autis juga hendaknya dikondisikan untuk dapat mengerti tentang autis dan cara menghadapi penderita, agar tidak menimbulkan dampak lebih buruk pada anak (pengucilan, kekerasan pada anak), juga untuk mendukung dan meningkatkan potensi penderita autis anak.
Pengetahuan tentang autis bisa didapatkan dengan membaca buku, seminar, atau mengikuti perkumpulan orang tua penyandang autis. Kini, makin banyak ada yayasan dan organisasi nirlaba yang peduli terhadap anak kebutuhan khusus. Mereka sering mengadakan pertemuan untuk sekedar berbagi dan bertukar pengalaman. 

Artikel Terkait

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon